Seorang ibu mendapati anaknya sedang sibuk di dapur. Anak itu menuliskan sesuatu di selembar kertas lalu memberikannya kepada sang ibu. Ibu pun membaca nya, dan isi dari tulisan anak itu adalah
"Ongkos upah membantu Ibu"
-Membantu ibu belanja ke warung 20.000
-Menjaga adik 20.000
-Membuang sampah 5.000
-Membereskan tempat tidur 10.000
-Menyiram bunga 15.000
-Menyapu 15.000
Jumlah: 85.000
Selesai membacanya, ibu lalu tersenyum, mengambil pena dan menulis di belakang kertas yg sama:
-Mengandung selama 9 bulan Gratis
-Jaga malam karena menjagamu Gratis
-Airmata yg menetes karenamu Gratis
-Khawatir memikirkan keadaanmu Gratis
-Menyediakan makan, minum, pakaian dan keperluanmu Gratis
Jumlah keseluruhan nilai kasihku Gratis
Membaca itu, airmata anak itu berlinang, lalu memeluk ibunya dan berkata, "Aku sayang ibu". Lalu dia mengambil pena dan menulis di kertas: LUNAS
Inilah nilai kasih dari ibu kita.. Hal2 yg mereka alami tidak akan pernah sebanding dengan apa yg kita perbuat untuk ibu.. Maka jangan pernah kecewakan ibu kita..
blog ini merupakan hasil coretan iseng-isengku. dari mulai cerita sedih, senang, sampai kebingunganku akan seseorang yang muncul dari berbagai macam inspirasi. aku harap dari berbagai tulisanku ini dapat bermanfaat buat teman - teman semua. selamat menikmati coretan ini teman teman :) have fun with my blog. guys!
Jumat, 25 Desember 2009
KEBOHONGAN IBU
Cinta kasih seorang Ibu
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya.
Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.
Ketika aku masih kecil, dan terlahir dikeluarga yang kekurangan..
Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku.
Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : "Makanlah nak, aku tidak lapar" KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
Ketika aku mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan tanganku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : "Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan"
KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA
Saat aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah kakak-kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :"Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja." Ibu tersenyum dan berkata :"Cepatlah tidur nak, aku tidak capek"
KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA
Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : "Minumlah nak, aku tidak haus!"
KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT
Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta"
KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA
Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : "Saya punya duit"
KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM
Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku "Aku tidak terbiasa"
KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : "Jangan menangis anakku, aku tidak kesakitan"
KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN
Di waktu malam yg dingin, ibu memberikan kepadaku sebuah selimut. Selimut itu hanya ada satu-satunya. Ketika kulihat Ibu tidak memakai selimut dan menggigil aku berkata kepadanya "Bu, mari selimut ini kita pakai berdua" kemudian Ibu berkata "Pakailah, Nak. Ibu tidak kedinginan"
KEBOHONGAN IBU YANG KESEMBILAN
Setelah mengucapkan kebohongannya yang kesembilan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.
Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : " Terima kasih ibu ! " Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah.
Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi. Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di kemudian hari
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya.
Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.
Ketika aku masih kecil, dan terlahir dikeluarga yang kekurangan..
Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku.
Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : "Makanlah nak, aku tidak lapar" KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
Ketika aku mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan tanganku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : "Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan"
KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA
Saat aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah kakak-kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :"Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja." Ibu tersenyum dan berkata :"Cepatlah tidur nak, aku tidak capek"
KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA
Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : "Minumlah nak, aku tidak haus!"
KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT
Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta"
KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA
Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : "Saya punya duit"
KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM
Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku "Aku tidak terbiasa"
KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : "Jangan menangis anakku, aku tidak kesakitan"
KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN
Di waktu malam yg dingin, ibu memberikan kepadaku sebuah selimut. Selimut itu hanya ada satu-satunya. Ketika kulihat Ibu tidak memakai selimut dan menggigil aku berkata kepadanya "Bu, mari selimut ini kita pakai berdua" kemudian Ibu berkata "Pakailah, Nak. Ibu tidak kedinginan"
KEBOHONGAN IBU YANG KESEMBILAN
Setelah mengucapkan kebohongannya yang kesembilan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.
Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : " Terima kasih ibu ! " Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah.
Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi. Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di kemudian hari
Ibu, wanita tangguh yg sering kita lupakan
.jpg)
Seberapa kenal dan pedulikah kita kepada Ibu kita???
ketika masih dalam kandungan ia melindungi dan menjaga kita dengan nyawanya
ketika kita lahir ia orang pertama yang tersenyum dan meneteskan air matanya untuk kita
ketika usia kita 1 tahun dengan bangganya ia berkata : Lihat ! anakku sudah pandai berjalan dan berbicara
ketika usia kita 3 tahun ia juga gembira dan berseru : Buah hatiku kini sudah dapat berkata2 dengan sempurna
ketika usia kita 5 tahun ia berkata : Jagoan kecilku kini sudah dapat membaca
ketika usia kita 6 tahun ia dengan bangganya menggandeng tangan kita menuju sekolah dan menunggui dengan sabar sampai bel pulang berbunyi
ketika usia kita 10 tahun ia selalu memperhatikan setiap kebutuhan kita yang mulai beranjak remaja
ketika usia kita 15 tahun ia dengan sabar menghadapi seluruh tingkah laku kita yang berubah karena puberitas
ketika usia kita 17 tahun, ia adalah orang pertama yang bersusah payah menyiapkan "pesta" ulang tahun kita
ketika usia kita 21 tahun ia adalah orang tersibuk dalam urusan persiapan pernikahan kita
ketika usia kita 30 tahun ia dapat menggantikan fungsi kita sebagai orang tua dalam merawat cucu2nya
ketika usia kita 40 tahun ia masih saja dapat mengingat kenangan2 indah tentang kita mulai dari lahir sampai sekarang
bagaimankah dengan kita??
ketika usia kita < style="font-weight: bold; font-style: italic;">kita hanya menjadi beban tenaga dan pikirannya saja
ketika usia kita 3 tahun kita mulai bertindak sesuka hati kita
ketika usia kita 5 tahun, melawannya adalah hal yang biasa saja
ketika usia kita 10 tahun, perkataan kita haruslah didengarnya suka atau tidak
ketika usia kita 13 tahun permintaan kita haruslah diturutinya
ketika usia kita 15 tahun kita bagaikan penguasa dan dialah suruhannya
ketika usia kita 17 tahun kita tanpa sadar mulai menggantinya dengan teman dan pacar
ketika usia kita 21 tahun dia tergantikan oleh pasangan kita
ketika usia kita 30 tahun kita sepenuhnya tak peduli lagi padanya karena hadirnya buah hati kita
ketika usia kita 40 tahun kita sudah menganggapnya seperti orang lain yang baru dikenal
Untuk kita renungkan bersama:
Berapa banyak dari kita yang sanggup menyuapi ibunya?
Berapa banyak dari kita yang sanggup mencuci muntah ibunya?
Berapa banyak dari kita yang sanggup mengganti selimut dan alas tidur ibunya?
Berapa banyak dari kita yang sanggup membersihkan najis ibunya?
Berapa banyak dari kita yang sanggup berhenti bekerja demi menjaga ibunya yang sakit?
Berapa banyak dari kita yang sanggup meluangkan waktu untuk bercengkrama dengan ibunya?
Berapa banyak dari kita yang sanggup mentaati perintah ibunya?
Dan yang terpenting dari itu semua :
Berapa banyak dari kita yang mau melaksanakan hal2 di atas???
Semoga kita semua dapat menghargai jasa besar ibu yang tiada terkira
Kisah Seorang IBU
Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. "Ibu, mengapa Ibu menangis?".
Ibunya menjawab, "Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak".
"Aku tak mengerti" kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. "Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti...."
Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. "Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?"
Sang ayah menjawab, "Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan".
Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya. Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.
Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan.
"Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?"
Dalam mimpinya, Tuhan menjawab, "Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.
Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu.
Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.
Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.
Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun.
Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya.
Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap.
Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.
Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan menjadi pelindung baginya.
Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?
Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya.
Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.
Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya.
Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan.
Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan"
Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu kalau beliau masih hidup, karena di kakinyalah kita menemukan surga.
Kasih ibu itu seperti lingkaran, tak berawal dan tak berakhir. Kasih ibu itu selalu berputar dan senantiasa meluas, menyentuh setiap orang yang ditemuinya. Melingkupinya seperti kabut pagi, menghangatkannya seperti mentari siang, dan menyelimutinya seperti bintang malam. Semoga Yang Maha Kuasa mengampuni dosa-dosanya
Renungan tentang " Ibu "

mari kita merenung tentang Ibu..
Bila senang,
aku cari.. pasanganku
Bila sedih,
aku cari.. ibu
Bila mendapat keberhasilan,
aku ceritakan pada.. pasanganku
Bila gagal,
aku ceritakan pada.. ibu
Bila bahagia,
aku peluk erat.. pasanganku
Bila berduka,
aku peluk erat.. ibuku
Bila ingin berlibur,
aku bawa.. pasanganku
Bila sibuk,
aku antar anak ke rumah.. ibu
Bila sambut valentine..
aku beri hadiah pada pasanganku
Bila sambut hari ibu...
aku cuma dapat ucapkan "Selamat Hari Ibu"
Selalu.. aku ingat pasanganku
Selalu.. ibu ingat aku
Setiap saat..
aku akan telepon pasanganku
Entah kapan..
aku ingin telepon ibu
Selalu..
aku belikan hadiah untuk pasanganku
Entah kapan..
aku ingin belikan hadiah untuk ibu
Renungkan:
Kalau kau sudah selesai belajar dan berkerja..
masih ingatkah kau pada ibu? Tidak banyak yang ibu inginkan..
hanya dengan menyapa, ibupun sudah merasa cukup Berderai air mata jika kita mendengarnya, tapi kalau ibu sudah tiada..
Mari kita luangkan untuk menyapa beliau, baik melalui telpon, ataupun menyapa dengan Do’a jika sudah tiada.
Langganan:
Komentar (Atom)